Fenomena Penjahat Jalanan Belia, Merekrut Anak Memang Enak

Anak-anak kini sedang berada di bibir jurang yang membahayakan. Pelaku kejahatan sengaja menjadikan anak-anak sebagai sasaran untuk meregenerasi jaringannya. Banyak pertimbangan yang mendasari proyek tersebut. Salah satunya, anak dianggap enak untuk ”dididik” hingga menjadi militan.

LEMBAGA Perlindungan Anak (LPA) Jatim menyebut, rata-rata 15 anak di antara 300 anak di Indonesia terlibat kasus hukum. Kasusnya beragam.

Mulai pencurian, narkoba, pencabulan, hingga penganiayaan. Sebagian di antaranya direkrut oleh penjahat senior.

Anggota Dewan Pengawas LPA Jatim Edward Dewaruci mengatakan, anak-anak rentan menjadi sasaran regenerasi pelaku kejahatan karena faktor yang melekat pada diri mereka. Menurut dia, pada usia belasan tahun, anak-anak sedang mencapai perkembangan menuju dewasa. “Mereka sedang mencari pengakuan diri,” katanya.

Karena itulah, anak-anak sangat mudah dirayu untuk melakukan apa pun. Termasuk diajak bergabung dengan kelompok penjahat. Rayuan tersebut melalui banyak sarana. Salah satunya memberikan rasa nyaman kepada anak. Misalnya, ditraktir, diorangkan sehingga anak merasa dirinya dianggap ada.

Bagi penjahat senior, merekrut anak sebagai anggota komplotan penjahat merupakan proses regenerasi dengan biaya yang sangat murah. Anak tidak terlalu banyak menghitung berapa keuntungan yang didapat. Sebab bagi penjahat, keuntungan yang diberikan kepada anak sangat kecil. Tapi bagi si anak, jumlah itu jauh dari yang dimiliki selama ini.

Sumber dari semua masalah itu, menurut Edward, berasal dari lingkungan keluarga. Anak tidak hanya butuh pemenuhan materi. Tapi, juga perhatian dan kasih sayang, baik dari ayah maupun ibu. “Anak jarang disapa, ditanya aktivitasnya, dipeluk, dan bahkan diorangkan. Sangat rentan,” ucapnya.

Akibatnya, anak mencari pemenuhan kebutuhan perhatian dan kasih sayang itu di luar rumah. Contohnya, anak lebih suka nyangkruk di warung kopi ketimbang berada di rumah. Kalau mendapat lingkungan yang baik, tidak ada masalah. Tapi, jika bertemu dengan lingkungan yang salah, anak akan terbawa.

Sumber : Jawapos (27 Aug 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *