Doktrin yang Ditanamkan Penjahat Senior ke Bandit Anak

ANGGOTA Dewan Pengawas LPA Jatim Edward Dewaruci menyoroti tentang makin banyaknya anak-anak yang menjadi pelaku kejahatan. Belum lagi, anak-anak juga rentan jadi sasaran regenerasi pelaku kejahatan. Kata dia, itu faktor yang melekat pada diri mereka.

Menurut dia, pada usia belasan tahun, anak-anak sedang mencapai perkembangan menuju dewasa. “Mereka sedang mencari pengakuan diri,” katanya.

Menurut Edward, anak menjadi lebih rentan ketika penanaman nilai benar dan salah dari lingkungan keluarga lemah. Akibatnya, anak tidak memiliki ketajaman dan ketegasan untuk memberikan penilaian antara yang benar dan salah.

Sejak awal, anak memang memiliki pemahaman bahwa mencuri itu dilarang. Tapi, ketika melihat ada yang mencuri dan ternyata tidak berdampak apa-apa, penilaian bisa berubah. Mencuri yang tadinya dianggap salah menjadi perbuatan yang dianggap boleh dilakukan.

Kerentanan tersebut ditunjang kelihaian bandit memainkan kegamangan anak. Misalnya, bandit juga mengajarkan bahwa mencuri motor tidak merugikan siapa pun. Termasuk korban. Sebab, motor yang dicuri itu biasanya diasuransikan. “Kalau motor itu hilang, diganti sama asuransi,” ujarnya.

Parahnya lagi, ada doktrin bandit yang menyebut bahwa mencuri motor malah membantu sales kendaraan untuk memasarkan dagangannya.

Sebab, mereka ditarget untuk menjual motor dalam jumlah dan tempo waktu tertentu. Ketika banyak motor dicuri, semakin banyak motor yang akan terjual. Dengan doktrin itu, anak akhirnya menganggap bahwa mencuri motor tidak merugikan dan malah membantu orang lain.

Anak semakin nyaman lantaran merasa diorangkan dan diakui keberadaannya oleh orang-orang di sekelilingnya. Perasaan tersebut semakin membuncah ketika merasa dihormati karena memiliki anak buah. “Pola itulah yang ditanamkan dalam kaderisasi kejahatan,” jelas Edward.

Anak menjadi semakin pede ketika diberi kemampuan untuk menghadapi bahaya. Misalnya, ketika mencuri motor, diajarkan cara meloloskan diri agar tidak tertangkap. Dengan doktrin tersebut, ketakutan anak akan tertangkap atau dipenjara berkurang.

Sebenarnya, perhatian, mengorangkan, pengakuan terhadap anak itu sudah cukup jika diberikan oleh lingkungan keluarga. Dengan begitu, anak tidak perlu mencari kebutuhan tersebut di luar keluarganya. Ketika ada godaan yang datang dari luar, anak akan membentengi diri dengan sikap yang selama ini diberikan keluarga.

Anak yang anteng dan diam di rumah bukan jaminan selalu berperilaku positif. Justru orang tua harus waspada dan mengecek lingkungan pergaulannya. “Apalagi kalau anak tidak pernah meminta uang kepada orang tua. Orang tua harus curiga,” tegasnya. Menurut dia, patut dipertanyakan selama ini jajan dengan uang yang berasal dari mana.

Edward menambahkan, pemerintah juga tidak boleh tinggal diam. Menurut dia, harus ada satgas khusus yang memantau kondisi keluarga di masing-masing kelurahan. Minimal ada data keluarga yang rentan. Sebab, jika tidak, itu akan menjadi bom waktu beberapa tahun ke depan.

Misalnya, minimnya perhatian orang tua kepada anak lantaran sibuk bekerja. Pemerintah harus membuat kebijakan sehingga orang tua tidak perlu mengorbankan perhatian terhadap anak lantaran mengejar pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya, membuat lapangan kerja yang memadai sehingga anak tidak keleleran. “Kalau dibiarkan, kita bayar pajak untuk apa,” ucapnya.

Sumber : Jawapos (Minggu, 28 Aug 2016)

Fenomena Penjahat Jalanan Belia, Merekrut Anak Memang Enak

Anak-anak kini sedang berada di bibir jurang yang membahayakan. Pelaku kejahatan sengaja menjadikan anak-anak sebagai sasaran untuk meregenerasi jaringannya. Banyak pertimbangan yang mendasari proyek tersebut. Salah satunya, anak dianggap enak untuk ”dididik” hingga menjadi militan.

LEMBAGA Perlindungan Anak (LPA) Jatim menyebut, rata-rata 15 anak di antara 300 anak di Indonesia terlibat kasus hukum. Kasusnya beragam.

Mulai pencurian, narkoba, pencabulan, hingga penganiayaan. Sebagian di antaranya direkrut oleh penjahat senior.

Anggota Dewan Pengawas LPA Jatim Edward Dewaruci mengatakan, anak-anak rentan menjadi sasaran regenerasi pelaku kejahatan karena faktor yang melekat pada diri mereka. Menurut dia, pada usia belasan tahun, anak-anak sedang mencapai perkembangan menuju dewasa. “Mereka sedang mencari pengakuan diri,” katanya.

Karena itulah, anak-anak sangat mudah dirayu untuk melakukan apa pun. Termasuk diajak bergabung dengan kelompok penjahat. Rayuan tersebut melalui banyak sarana. Salah satunya memberikan rasa nyaman kepada anak. Misalnya, ditraktir, diorangkan sehingga anak merasa dirinya dianggap ada.

Bagi penjahat senior, merekrut anak sebagai anggota komplotan penjahat merupakan proses regenerasi dengan biaya yang sangat murah. Anak tidak terlalu banyak menghitung berapa keuntungan yang didapat. Sebab bagi penjahat, keuntungan yang diberikan kepada anak sangat kecil. Tapi bagi si anak, jumlah itu jauh dari yang dimiliki selama ini.

Sumber dari semua masalah itu, menurut Edward, berasal dari lingkungan keluarga. Anak tidak hanya butuh pemenuhan materi. Tapi, juga perhatian dan kasih sayang, baik dari ayah maupun ibu. “Anak jarang disapa, ditanya aktivitasnya, dipeluk, dan bahkan diorangkan. Sangat rentan,” ucapnya.

Akibatnya, anak mencari pemenuhan kebutuhan perhatian dan kasih sayang itu di luar rumah. Contohnya, anak lebih suka nyangkruk di warung kopi ketimbang berada di rumah. Kalau mendapat lingkungan yang baik, tidak ada masalah. Tapi, jika bertemu dengan lingkungan yang salah, anak akan terbawa.

Sumber : Jawapos (27 Aug 2016)